Sabtu, 04 Januari 2014

pengetahuan dslr

mengulas sedikit tentang dslr yang pernah aku pelajari.... :)

Komponen dasar yang terdapat pada kamera DSLR (sebagian terdapat juga pada kamera Rangefinder), yaitu:

- Lensa

- Diafragma (Aperture)

- Rana (Shutter)

- Sensor gambar digital (Digital Image Sensor)

- Memory Card

- Layar LCD

- Flash eksternal

- Jendela bidik (viewfinder)



3 sekawan yang harus dikuasai


Diafragma (Aperture) atau Bukaan Lensa


Aperture adalah bukaan pada lensa untuk mengatur volume cahaya yang masuk menuju sensor gambar digital. Eksposure dari sebuah gambar ditentukan oleh kombinasi kecepatan rana (Shutter Speed) dan bukaan Aperture. Bukaan Aperture yang besar akan memberikan cahaya lebih banyak melewati lensa. Aperture diukur dalam f-stop dan setiap stop melambangkan jumlah cahaya yang diterima. Aperture jika dikombinasikan dengan Focal Length akan menentukan ketajaman dari gambar yang dihasilkan (Depth of Field).

Diafragma (Aperture) sebuah lensa


f-stop

Fotografer melakukan penyesuaian bukaan Aperture dengan mengatur f-stop. f-stop merupakan rasio dari focal length lensa terhadap diameter bukaan Aperture.

Sebagai contoh, lensa dengan focal length 50mm dan diameter bukaan Aperture 12.5mm akan menghasilkan nilai f-stop f4 (50 ÷ 12.5 = 4). Jadi semakin besar nilai numerik f-stop, bukaan Aperture semakin kecil. Contoh jika di set f2 maka bukaan Aperture adalah besar dan jika di set f22 maka bukaan Aperture adalah kecil.


Aperture Lensa dalam f-stop

f-stop dan tingkat pencahayaan



Ketajaman Gambar (Depth of Field, DoF)

DoF adalah bidang gambar yang fokus dari latar depan (foreground) dan latar belakang (background) yang ditentukan oleh kombinasi kombinasi bukaan Aperture dan Focal Length lensa. Aperture yang kecil akan menghasilkan DoF yang lebih besar. Misal jika Aperture di set f2 maka akan menghasilkan ruang tajam yang kecil, artinya fokus yang ditangkap kamera hanya tertuju pada objek itu sendiri sementara foreground dan background nya akan blur. Jika Aperture di set f22 maka akan menghasilkan ruang tajam yang besar, artinya fokus akan didapat pada foreground, background dan objek itu sendiri.



Shutter (Rana)

Shutter adalah suatu mekanisme untuk mengontrol durasi cahaya yang masuk ke kamera menuju sensor gambar digital yang diaktifkan ketika menekan tombol untuk memotret. Ketika kamera dalam keadaan diam, maka shutter akan menutupi semua bagian sensor dan posisi cermin pantul (reflexing mirror) ke arah bawah sehingga mata dapat melihat objek yang akan di foto. Ketika tombol untuk memotret ditekan, maka posisi cermin pantul menutup keatas dan bersamaan dengan itu Shutter akan membuka dan membiarkan cahaya masuk menuju sensor.

Lamanya durasi cahaya yang masuk disebut dengan Shutter Speed, satuannya dalam rentang detik dan 1/sekian detik. Biasanya diset dalam interval “1 stop“, sama halnya dengan aperture, setiap penambahan 1 stop berarti jumlah cahaya yang masuk menjadi 2 kalinya dan sebaliknya setiap pengurangan 1 stop berarti jumlah cahaya yang masuk menjadi ½ kalinya. Range intervalnya adalah sebagai berikut:

…1/1000, 1/500, 1/250, 1/125, 1/60, 1/30, 1/15, 1/8, 1/4, 1/2 ,1, 2, 4, 8, 15, 30….

Semakin ke kiri berarti semakin cepat kecepatan shutternya dan semakin sedikit cahaya yang bisa masuk, sebaliknya semakin ke kanan, berarti semakin lambat kecepatan shutternya dan semakin banyak cahaya yang masuk.

iso


ISO atau ASA adalah kepekaan sensor yang ada pada sebuah kamera digital terhadap cahaya. Semakin besar nilai ISO, maka semakin besar pula kemampuan sensor kamera terhadap penyerapan cahaya yang masuk.

Nilai ISO pada kamera umumnya memiliki perbedaan. Kamera tertentu mempunyai mempunyai ISO 80 hingga ISO 3200. Bahkan untuk tipe kamera pada saat sekarang tehknologi ISO semakin berkembang hingga mencapai ISO 25600. Kebayang kan kalo punya kamera dengan ISO setinggi itu? dalam keadaan gelap pun kamera dapat memaksimalkan dalam perekaman gambar/foto.

Kelebihan pemakaian ISO tinggi dalam memotret sebuah objek saya sarankan untuk hanya memotret sebuah  objek yang benar-benar minim cahaya. Kenapa demikian ? memaksakan merekam gambar/foto dalam keadaan gelap untuk terlihat terang tak lepas dari bahaya NOISE. Anda harus bisa pintar dan jeli dalam penggunaan ISO dan saya sarankan belajar pula mengenai editing foto melalui Solfware desainer seperti Photoshop ( akan segera di bahas pada blog ini :) ). Solfware photoshop sangat luar biasa . Disitu anda bisa membuat foto lebih indah serta meminimalisir NOISE pada foto akibat penggunaan ISO tinggi. Namun demikian, sebagai desainer yang kreatif NOISE pun bisa menjadi sebuah karya loh ! NOSIE pada foto bisa memunculkan kesan tertentu pada foto misalnya foto-foto yang bertemakan masa lampau serta dapat memunculkan kesan klasik.



1 komentar: